Skala

Posted August 27th @ 6:39 am by rendy

Sejak beberapa hari lalu saya mengikuti acara peluncuran E-track di SBM, Tidur saya semakin tidak nyenyak karena ada ganjalan pemikiran yang rupanya ini merupakan masalah sehari-hari kita hadapi.

Adapun beberapa ganjalan tersebut adalah tentang skala.

Sehari-hari kita dihadapi dengan penyedia jaringan telekomunikasi yang kurang memerhatikan skala, dengan mengedepankan harga yang murah namun mengabaikan kualitas, bahkan reliabelitas, semisal, telepon yang sering putus, atau kresek kresek, apapun operatornya, kemudian jaringan internet yang turun naik bahkan sampai seorang teman kesulitan membuka situs lokal (localhost ?)

Okey, itu masalah tentang skala di kehidupan manusia yang mementingkan telekomunikasi lebih dahulu, namun ada juga masalah lucu di pemerintahan yang nampaknya terabaikan dengan keharusan seorang pemimpin daerah yang harus tenar atau memiliki massa yang banyak.

Sebagai Contoh sederhananya, kita ambil Jawa Barat, Berdasarkan referensi dari Wikipedia Indonesia, Jawa Barat memiliki penduduk sebesar 39.140.812 Jiwa pada tahun 2004, tentunya sekarang sudah bertambah entah berapa, Tentunya hal tersebut sebanding dengan jumlah penduduk Argentina di tahun 2007, yakni 40,301,927 Jiwa. Memang tidak sama persis, namun mendekati.

Tapi pernahkah anda berpikir, bahwa seseorang yang membuat peraturan atau memimpin di tingkat Propinsi Jawa Barat sebaiknya memiliki kemampuan sekelas Presiden Argentina ? Karena ia memimpin jutaan jiwa manusia yang tinggal di daerahnya.

Fiuh berat yah, lalu harus dimulai dari mana ini diselesaikan? Mengganti Gubernur ? Mengganti Infrastruktur ? kayaknya mengganti bukan solusi terbaik, lebih baik hantam saja rakyatnya dengan pendidikan yang lebih baik agar tidak salah dalam memilih, dan juga ajarkan bagaimana cara menggunakan sarana telekomunikasi dengan bijak.

Semoga di tahun depan, Manusia Indonesia sudah bisa lebih pintar lagi dalam memilih pemimpin, dan juga menggunakan (atau juga menjual) sarana telekomunikasi yang terbatas dengan bijak. Untuk Sekedar Informasi, Indonesia saat ini memiliki sekitar 230jt jiwa, hal ini hampir sama dengan dua kali penduduk Jepang, anda juga dapat melihat perbandingan jumlah penduduknya disini.

Program Pendidikan Entrepreneurship Gaya Baru di SBM ITB

Posted August 22nd @ 9:40 pm by rendy

Sebetulnya saya sedang menahan diri untuk tidak menulis blog, tapi apa daya akhirnya tak tahan juga untuk menulis, karena hal ini merupakan sebuah kebahagiaan yang cukup mendalam buat saya dalam periode 1 bulan terakhir ini (sebenernya kebanyakan pergi ke ondangan jadi bingung mau cerita yang mana).

Pagi ini diundang ke SBM ITB, katanya peluncuran E-track, tapi apa itu E-track aku tak tahu sampai hadir ke acara tersebut, Belum lima menit disana, bertemu dengan Rahardjo Ramelan dengan gaya nyentriknya yang khas batik, dan bersenda guraulah kami disana - saya - Rahadjo - dan Tonton yang baru saya kenal tadi pagi. Tak lama akhirnya kami masuk kedalam ruangan Auditorium SBM, tempat biasanya kuliah dan duduk dibangku pemalas yakni bangku belakang, tepat dimana ada senderan yang nyaman yang bisa membuatmu tertidur pulas ketika kuliah (cerita lalu lah yah) dan tampak suasana berbeda karena SBM baru selesai renovasi ruangan auditorium (biasanya per 2 tahun sekali).

Ke point utama sekarang, jadi E-Track itu adalah sebuah pengembangan dari Integrative Business Experience yang dulu pernah saya jalani semasa kuliah. Uniknya kali ini, kuliah ini terbuka untuk seluruh mahasiswa ITB yang berminat mengembangkan bisnis dan ingin mengembangkan diri menjadi entrepreneur. Ternyata juga dibuka program khusus keahlian dibidang Management Inovasi dan Teknologi (MIT-Track) yang terbuka juga untuk seluruh mahasiswa ITB yang ingin mengembangkan keahlian dalam mengelola teknologi dan mengembangkan Inovasi.

Eheum, hasil statistik dari keluaran angkatan saya di SBM dulu, sudah 15% yang menjadi entrepreneur, alhamdulillah, meski sisanya banyak yang jadi junker di milis angkatan, setidaknya jauh lebih baik daripada perkiraan dahulu yang hanya 10%.

Ohyah, E-Track ini membuat masa kuliah di SBM yang tadinya 3 tahun menjadi 4 Tahun, karena 1 tahun terakhir diisi dengan real business, bukan dengan short term business kayak Integrative Business Experience, dan ini merupakan pilihan, jadi tidak wajib. Menurut pandangan saya, E-Track ini berfungsi sebagai inkubasi bisnis internal mendalam yang dilakukan oleh SBM kepada mahasiswanya yang berminat menjadi entrepreneur, dan kabar bahagia yang saya dengar, sudah ada 5 orang yang mendaftar jadi peserta E-Track ini.

Sayangnya sewaktu saya kuliah kemarin belum ada program ini, sehingga saya harus cuti beberapa smester untuk menseriuskan berbisnis (untung sudah selesai kuliahnya). Kalau ini benar benar berbisnis dan dibantu secara networking oleh orang-orang yang sudah mapan dibidangnya, bisa dibayangkan kah, secepat apa laju mereka dalam berbisnis nantinya?

Balik ke acara, cukup ramai acara ini, 9 pagi ke 11.30 siang, saya diminta mengisi sesi berbagi pengalaman entrepreneurship ke adik kelas oleh empunya Acara, Dwilarso, ternyata lucu lucu yah mereka (adik kelas saya, Red.)… hehe, dan ada juga Tonton Taufik, Rahardjo Ramelan, Hariono, dan Raden Sirait. yang membagikan segudang pengalaman mereka dalam berbisnis, wow, sudah lama tidak di charge seperti ini, ada energi yang segar dan dapat dirasakan apabila bisa bertemu dengan orang orang yang enerjik dan penuh semangat dalam membangun negeri ini. Sempat saya meneteskan air mata ketika meresapi apa yang saya dapat tadi pagi, apabila 1 orang manusia Indonesia dapat membuat lapangan pekerjaan untuk 10 orang saja, dan dari 10 orang itu dapat menghidupi 4 orang anggota keluarganya saja, bayangkan betapa banyaknya kebahagiaan yang dapat kita bagi dan kita rasakan bersama-sama dengan orang lain, juga jumlah pengangguran dan kaum dhuafa dapat dikurangi serta meminimalisir angka kriminalitas di Indonesia.

Semoga jadi berkah yah :)

ITB VS UNPAD! Skor 1:1

Posted August 5th @ 12:43 pm by rendy

Kira-kira judulnya provokatif gag yah?

Okey, selamat untuk team Web Master ITB dan team Web Master Unpad yang telah sukses mengganti layout situs www.itb.ac.id dan www.unpad.ac.id dengan layout yang lebih baru, setelah dikonfirmasikan, kedua team tersebut sama sama mengganti layoutnya pada Senin 4 Agustus 2008. Apakah mereka janjian ?

Menurut penilaian sepintas dari saya, mengenai layout, keduanya sudah sangat OK! dalam artian sudah tidak perlu diragukan lagi, melihat siapa saja yang berada di balik pembuatan kedua situs tersebut. Namun tentu saja ada point plus yang amat berbeda dari kedua belah pihak.

Situs ITB sendiri, selain layoutnya yang search engine friendly (coba buka pakai lynx), situs ini mengusung konsep 2.0 yang cukup mendalam, dimana gambar untuk situs, berasal dari karya orang perorangan yang terdapat di Flickr dengan tag ITB, sehingga gambar yang diambil untuk situsnya, memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai sebuah institusi pendidikan.

Sedang untuk situs Unpad, selain layoutnya yang sederhana, situs ini menggunakan model-model yang cantik dan menarik, yang membuat situs ini betah dilihat dalam waktu yang lama.

Jadi untuk layout baru kedua perguruan tinggi ini, saya bisa beri nilai satu sama, sama sama unggul.

Anda penasaran, siapa saja yang berada di balik kedua team web master perguruan tinggi ini? Tentunya tidak asing lagi namanya, di ITB sendiri ada Widianto Nugroho, Djembar “Anduz” Lembasono, Beni Rio, dkk, sedang di Unpad, ada Pupung B Purnama, Hengky Anwar, dkk, yang kesemuanya sudah tidak asing lagi namanya dibelantara rimba dunia maya ini.

Untuk soal konsep desain dan juga teknologi dibelakang layar, mengingat nama-nama yang disebutkan diatas rasanya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Selamat atas kerja keras kedua team, semoga makin berjaya :)

Terbalik

Posted July 14th @ 12:56 pm by rendy

Rasanya ada yang janggal dengan kondisi negeri ini, terutama yang saya perhatikan mengenai tarif listrik, tarif internet, tarif telepon dan layanan publik.

Di siaran berita salah satu stasiun televisi Indonesia siang ini (14/7/08) menyebutkan bahwa PLN akan menaikkan tarif listrik untuk golongan pengguna 6600 watt keatas, yang katanya mereka tidak bisa menghemat konsumsi listrik.

Yang saya ketahui, pelanggan 6600 watt keatas itu lebih didominasi oleh pelanggan korporat, atau kalangan industri yang hidupnya amat bergantung kepada listrik, lucunya tarif listrik akan dinaikkan, yang mengakibatkan biaya operasional atau biaya produksi akan naik. Bakal ada yang kena PHK biasanya kalau begini, atau kualitas barang hasil produksi akan menurun, atau harga barang akan naik, tentunya efek ke pembeli akan mengeluh atau marah marah karena harga barang naik.

Skemanya seperti ini kira-kira kalau saya gambarkan:

Ibarat meracuni sungai di Hulu, Ikannya mati sampai ke hilir.

Entah pembuat policy lupa atau apa, namun yang jelas negeri ini memang terbalik, dimana barang konsumsi perorangan jauh lebih murah daripada konsumsi industri, yang menyebabkan manusianya konsumtif tanpa mau berpikir bagaimana caranya memproduksi. Karena biaya produksi yang mahal, lebih murah import dari China lah yah tentunya.

Tarif Internet juga seperti itu kejadiannya, tarif internet untuk perusahaan, setelah saya survei, masih banyak yang mahal, 64Kbps dengan harga 2,4 Juta Rupiah per bulan, bandingkan dengan layanan unlimited personal (yang katanya buat kantor / warnet) dari Telkom Speedy yang dilepas dengan harga 480.000 per bulan up to 1 Mbps.

Lebih baik menggunakan layanan personal untuk kepentingan kantor bukan, karena lebih murah jatuhnya… Wah.. lama lama negeri ini penuh dengan pelanggan yang mengabuse layanan nih, seperti kasus XL yang sering colapse di daerah tempat tinggal saya, karena dipakai oleh pelanggan perorangan, tanpa henti, di share ke banyak komputer.

Tarif telepon juga begitu, untuk kepentingan personal jauh lebih murah, ada yang menawarkan 1 rupiah setiap kali nelepon, ada juga yang menawarkan gratis untuk jam tertentu. Tentunya yang ketiban sial adalah pelanggan korporat atau pelanggan loyal yang sudah lebih lama berlangganan, susah nelepon lah, sinyal drop terus, kresek kresek, telepon nyasar, dan lain lain, mau minta narik jaringan kabel susah, “maaf mas, daerahnya sudah habis jalurnya”.

Bagaimana dengan layanan publik ? rasanya trotoar di pinggir jalan sudah menjadi milik empunya rumah atau toko, di Jakarta saja memotret di ruang publik sudah banyak yang mengharamkan. Bagaimana nasib bangsa ini dikemudian hari yah?

Pusing ah..

Hadiah Dari XL Blog Competition & Dag Dig Dug

Posted July 3rd @ 7:32 am by rendy

Minggu lalu datang kiriman ke kantor yang dibungkus dengan kayu, untuk membukanya agak susah memerlukan catut untuk mencabut paku. Ternyata kiriman ini merupakan hadiah dari XL dan Dag Dig Dug dari Blogging Competition yang dilaksanakan sebulan lalu.

Lumayan lah, tengkyuuuw banget XL dan Dag Dig Dug, padahal seminggu sebelum nerima hadiah, kepala pusing gara2 tagihan Xplor yang bengkak, =)

Options:

Size

Colors